Artikel Terbaru

Showing posts with label Nasehat. Show all posts
Showing posts with label Nasehat. Show all posts

Menjadi Orang yang Bermanfaat di Sekitarmu

Written By Admin on Sunday, October 20, 2013 | 3:03 AM

H. Farid (Ketua DPD LDII Kota Tanjungpinang)
Menjadi seorang sarjana atau Intelektual tetapi tidak beriman itu lebih berbahaya dari pada orang yang bodoh. Lebih baik menjadi orang bodoh dari pada berilmu tetapi tidak beriman. Ilmu yang tidak di dasari dengan iman maka akan menghancurkan kehidupan manusia, Contoh atom yang di kembangkan sebagai senjata pemusnah massal.


Sampai ada Negara yang memiliki roket nuklir lebih dari 3000. Itulah ilmu pengetahuan jika tidak didasari dengan keimanan. Maka jelaslah bahwa ilmu pengetahuan itu akan berguna dan bermanfaat bagi umat jika di dasari keimanan terhadap Allah SWT. Setelah seseorang itu berilmu dan beriman maka di lanjutkan dengan beramal baik. Yaitu memiliki hati yang bersih, hati yang mulia, memiliki hati yang berkhlaq.

Meskipun seseorang itu telah berilmu, dan dia beriman bahkan sudah melaksanakan ibadah haji, tetapi punya kebiasaan menyakiti terhadap tetangga, senang membuat fitnah dan perpecahan umat. Dan untuk mendapatkan hati yang berakhlaqul karimah, maka supaya di bersihkan terlebih dahulu dari sifat-sifat yang jelek. Kemudian di isi dengan sifat tawadhu, kesabaran, keridhaan dan kesukuran.

Sebab jika tidak di isi dengan hal-hal yang demikian maka yang ada adalah takabur, pemarah, egois, rakus, dan kehidupannya semua berisikan kepalsuan. Kehidupannya menjadi tidak berarti di hadapan Allah SWT.

 Saudara-saudara kita tidak perlu menonjolkan sesuatu yang bersifat formalitas, misalnya selalu berbusana yang khusus, selalu menggunakan sorban jidatnya ngapal, tetapi yang lebih penting adalah hati, Sikap dan perbuatan nya hanya takut kepada Allah, hatinya ikhlas semata-semata karena mengharapkan rahmat dari Allah SWT. Semoga dengan peningkatan Akhlaqul karimah, Demokrasi di Negara kesatuan RI menjadi lebih bermakna menuju Negara yang makmur dan sejahtera.

(H. Farid Ketua DPD LDII Kota Tanjungpinang)

Ilmu Allah

Written By Admin on Saturday, September 14, 2013 | 12:00 AM

Berkata Malaikat: "Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Menghukumi"  Surat Al-Baqoroh (2:32).
Beribu-ribu tahun yang lalu, ketika Allah akan menjadikan Adam sebagai khalifah di muka bumi, para Malaikat sempat mempertanyakan mengapa Allah memilih mahluk yang doyan berbuat kerusakan dan mengalirkan darah menjadi khalifah?. Mengapa bukan justru mereka saja yang terus menerus tanpa putus bertasbih yang dinobatkan menjadi khalifah bumi? Heran.

Bagaimana cara Allah menangani keheranan Malaikat? Wa ‘allamal adaama asmaa-a kullahaa diajarkan-Nya-lah kepada Adam nama seluruh benda yang waktu itu ada di muka bumi. Sini tanah, situ pohon, sana batu, sono langit, ini hidung, itu kaki, dst, dst.

Setelah itu Allah berkata kepada Malaikat: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian benar". Malaikat menyerah. Fasajaduu – mana sujud para Malaikat itu, kepada Adam, illaa ibliis – kecuali Iblis.

Hanya ilmu tentang nama-nama benda. Bukan ilmu dasar iptek matematika, fisika, kimia, biologi yang ruwet-rumit. Hanya nama-nama benda. Tidak lebih.

Peristiwa Besar
Kejadian itu sepertinya hal kecil. Padahal adalah sebuah peristiwa besar. Yang menunjukkan betapa makhluq itu tidak ada apa-apanya dimata Sang Khaliq.
Malaikat dibuat dari cahaya. Manusia dibuat dari tanah. Tugas manusia adalah beribadah kepada Allah. Tugas Malaikat adalah, antara lain, mencatat amal baik dan amal buruk manusia.

Dari hal-hal itu, seorang anak kecil saja bisa menarik kesimpulan bahwa kedudukan Malaikat lebih tinggi dari manusia.

Tapi mengapa Malaikat “kalah” ketika di test nama-nama? Padahal hanya nama-nama sederhana? Kalah oleh manusia yang ingredient alias ramuan bahan dasarnya saja “lebih rendah”?.

Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian. Karena Allah menghendaki mengajarkan kepada Adam ilmu nama-nama yang tidak pernah diajarkan-Nya kepada Malaikat.

Einstein-Hawking
Jika ditanya siapakah ilmuwan-ilmuwan terbesar sepanjang masa, maka Albert Einsten dan Stephen Hawking adalah dua nama diantaranya. Yang pertama terkenal dengan teori relativitasnya, yang kedua terkenal dengan teori ‘big bang’ alias dentuman besarnya. Teori apa itu? Bukan porsi artikel ini untuk menjelaskannya.

Jawaban terhadap pertanyaan mengapa kecemerlangan otak mereka tidak diberikan kepada ilmuwan Muslim melainkan justru diberikan kepada ilmuwan atheis, identik dengan jawaban terhadap pertanyaan mengapa ilmu nama-nama tidak diberikan kepada Malaikat.
Diantara 25 Nabi, ada 5 Nabi yang mendapatkan peringkat Ulul ‘Azmi: Fashbir kamaa shobaro uulul ‘azmi – shobarlah sebagaimana rasul yang diberi keshobaran hati. Mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad.

Tetapi mengapa Musa sampai harus meminta-minta diajari ilmu mengetahui masa depan kepada Nabi Khidir yang di dalam daftar 25 Nabi pun, tidak ada? Tragisnya, boro-boro mendapatkan ilmu, Musa menjadi murid Khidir pun, gagal, karena tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya atas berbagai hal yang memang aneh dan layak ditanyakan. Misalnya, dengan enaknya Khidir membunuh orok yang masih merah, dll.

Mengapa Khidir lebih pintar dari Musa? Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian.
Dikejadian lain, mengapa Musa yang Ulul ‘Azmi bisa dikalahkan oleh ilmunya Bal’an bin Bauro sehingga muter-muter selama  40 tahun sampai bisa menemukan Baitul Maqdis?  Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian.

Jika sejak tahun 1886 mobil Merdeces-Benz menemukan puluhan ribu paten, maka setiap paten sesungguhnya adalah Ilmu Allah, hanya saja awalnya ditemukan oleh orang Jerman, Tuan Gottlieb Daimler dan Tuan Carl Benz. Dst.,  dst. Tidak ada secuilpun di dunia ini yang tidak didasarkan atas ilmu Allah. Bahkan sekedar nama-nama benda.

Ikhtilaf
Sayang sekali, untuk 1 ilmu yang sama, Allah memberi keleluasaan kepada manusia untuk menafsirkannya secara berbeda. Terutama ilmu-ilmu non-eksakta.

Untuk ilmu eksakta, atau dulu disebut ‘ilmu pasti’, dimana-mana di belahan dunia manapun yang namanya 2 kali 2 hasilnya 4; yang namanya air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah; yang namanya kecepatan cahaya selalu jauh lebih besar daripada kecepatan suara; dst., dst.

Tetapi bagaimana dengan ilmu yang satu ini yang berbunyi: al-jamaa’atu rohmatun wal firqotu ‘adzabun – jamaah adalah rohmat dan pecah belah adalah siksa.

Ada seabrek pengertian yang dimaksud ‘jamaah’, ada seabrek  pengertian yang dimaksud ‘rohmat’, ada seabrek  pengertian yang dimaksud ‘firqoh’, dan ada seabrek  pengertian yang dimaksud ‘adzab’. Kalau dibuat matriks 4x4 jamaah-rohmat-firqoh-adzab, maka pengertiannya sudah pasti seabrek-abrek.

Maka disinilah fungsinya isnad atau mata rantai yang menjamin tersambungnya dengan pengertian yang sebenarnya dengan apa yang diajarkan dan dimaksudkan oleh Nabi.
Disinilah pentingnya ilmu asbabun-nuzul atau sebab-sebab turunnya sebuah ayat Al-Quran atau asbabul-wurud atau sebab-sebab adanya sebuah hadits.

Disinilah penting hadits Bukhori, Muslim, Nasai, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dsb.

Ilmu Tidak Bermanfaat.
Hah! Mosok iya ada ilmu yang tidak bermanfaat?
Yakin, haq: ada!. Buktinya Nabi mengajarkan do’a yang dibaca sebelum minum air zamzam: Alloohumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a – Ya Allah hamba memohon ilmu yang bermanfaat.

Bukti lain, di hadits lain, Nabi mengajarkan do’a: Alloohumma innii a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’ – Ya Allah hamba berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Nah.
Banyak ilmu ternyata tidak selamanya identik dengan orang faqih atau orang faham.

Faqihun wahidun asyaddu ‘alasy syaithooni min alfi ‘aabid – Satu orang faqih lebih berat bagi syaithan daripada seribu orang yang bodoh. Jadi bukan orang yang banyak ilmunya yang ditakuti syetan. Tapi orang faqih.

Satu ketika ada seorang sahabat yang menyimpan sedekah di sebelah mimbar di masjid, dengan harapan diambil oleh orang miskin. Apa yang terjadi? Sedekah tadi diambil oleh seorang pencuri.

Di lain hari, disimpannya lagi sedekah di sebelah mimbar masjid, dengan harapan yang sama. Apa yang terjadi? Sedekah tadi diambil oleh orang tidak baik lainnya. Demikian seterusnya.

Sohabat tadi kemudian lapor kepada Nabi yang kemudian dijawab bahwa pada saat sedekah itu diletakkan di sebelah mimbar, pahalanya sudah diterima di sisi Allah.
Ilmu Allah dari hadits diatas adalah, saat sedekah, pahala sudah jadi. Urusan sedekah itu menjadi apa, sudah menjadi urusan Allah.

Identik dengan keadaan masa kini. Saat seorang Mumin menyerahkan sedekahnya kepada Baitul Maal wa Tamwil (BMT), saat itu pahalanya sudah diterima oleh Allah. Terserah Allah, melalui pengurus BMT mau diapakan sedekahnya itu. Itulah ilmu Allah, sebagaimana yang dapat dipetik dari hadits sedekah yang diambil bukan oleh orang miskin diatas.

Sebaliknya mereka yang sedekah kemudian mengungkit-ungkit, mencari-cari, berprasangka, suudzon tanpa hak, itu adalah Ilmu Syetan yang mengajak menghancur-leburkan amal sedekahnya sendiri.

Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa tubtiluu shodaqootikum bil manni wal adza – Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian membatalkan sedekahmu dengan mengungkit-ungkit dan menyakitkan hati. Nah, apalagi kalau bukan Ilmu Syetan yang membatalkan amalan?

Ibadah Ghoiro Maghdhoh
Definisi syirik sudah jelas. Ada di Al-Quran dan ada di Al-Hadits. Syirik yang terang-terangan alias dzahar adalah menyembah kepada selain Allah, atau menduakan Allah. Syirik yang samar alias khoufi adalah ibadah mengharapkan ‘sesuatu’ selain pahala dari Allah.  Segala macam syirik ganjarannya adalah dimasukkan kedalam neraka.

Maka itu terhadap pendapat yang menyatakan bahwa menghormat bendera adalah perbuatan syirik, sudah pasti disebabkan bingung tidak bisa membedakan antara “menyembah” dengan “menghormat”.

Hormat bendera adalah bagian dari kewajiban warga negara untuk selayaknya menghormati segala atribut yang melambangkan kebesaran negara. Bahkan untuk hal-hal tertentu, pelecehan terhadap atribut negara menimbulkan konsekwensi hukum.
Jika istiqomah – konsisten dengan keyakinannya, yang menyatakan syirik terhadap menghormat bendera, seharusnya menyatakan syirik pula terhadap yang mentaati lampu setopan di perempatan jalan, dan yang mentaati tukang parkir, karena bukankan taat itu hanya kepada Allah dan Rasul? Bahkan seharusnya menyatakan perbuatan syirik pula terhadap pembayaran STNK, pembuatan KTP dan SIM, dll., dll., bukan?
Karena kebanyakan ilmu, namun bukan Ilmu Allah, melainkan ro’yu ilmu fikiran sendiri, maka syetan pun masuk. Padahal ro’yu itu sangat berbahaya. Sabda Nabi, barang siapa yang berkata dengan ro’yu alias fikiran sendiri - fa ashooba faqod akhto – umpamapun perkataannya benar, maka tetap saja salah. Apalagi perkataannya salah. Pantas bingung.

Kalau sudah bingung, firman Allah tsummun bukmun ‘umyun – tuli bisu buta, fahum laa yarji’uun – maka mereka tidak bisa kembali.
Alhamdulillah bagi mereka yang bisa mengamalkan ibadah maghdhoh yang berkaitan dengan Rukun Iman percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Nabi, Qodar dan Kiamat; serta ibadah yang berkaitan dengan Rukun Islam Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji.

Alhamdulillah bagi mereka yang bisa membedakan mana ibadah ghoiro maghdhoh yang tidak berkaitan dengan kedua rukun diatas, melainkan ibadah sosial. Yaitu memiliki keyakinan bahwa menjadi warga negara yang taat kepada Pemerintah yang sah serta menghormati 4 pilar (1) Pancasila, (2) Undang-undang Dasar (UUD) 1945, (3) Bhineka Tunggal Ika dan (4) NKRI, adalah bagian daripada ibadah.
Hanya Ilmu Allah yang sebenarnya yang bisa membawa keyakinan seperti itu. Maka sesekali tirukanlah ucapan Malaikat ketika menyerah kepada Allah untuk sujud kepada Adam: “Ya Allah, tidak ada ilmu bagi kami kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami”.

Kalau sudah demikian, setinggi apapun ilmu agama dan ilmu dunia yang dikuasai, bagaimana mungkin masih bisa sombong? Fa aina tadzhabuun?

Ir. H. Teddy Suratmadji, M.Sc.

Hidup Adalah Menanam

Written By Admin on Sunday, May 26, 2013 | 7:45 PM

Tanpa terasa perjalanan hidup kita begitu cepat berlalu untuk kita jalani. Selama mengarungi kehidupan tentunya banyak bekas dan telapak kaki yang kita tinggalkan. Ada bekas luka dan juga ada bekas bahagia yang kita turahkan disana, semua itu menjadi catatan sejarah sepanjang perjalanan hidup kita, sejarah akan mencatat, kita akan mengenang, dan orang  lain akan mengingat dan menilai.

Orang akan mengingat dan menilai terhadap apa yang pernah kita lakukan dan tentunya itulah berkas telapak kaki yang telah kita tinggalkan, sekarang saya tawarkan, yang menjadi bahan untuk kita renungkan. "Apa yang kita tinggalkan untuk orang- orang di belakang kita? ‘’Ada sebuah pepatah mengatakan gajah mati meninggalkan gading, macan mati ,meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.

Pepatah  ini memberikan makna filosopi yang sangat mendalam sebagai nasehat untuk kita agar senantiasa berbuat baik dan meninggalkan kejelekan. Konsep hidup adalah menanam, sebab pada intinya kita hidup di dunia ini adalah menanam untuk kehidupan akhirat (addun ya  mazroatullil akhirat).

Kalau kita menanam jagung maka tiga atau empat bulan kemudian kita akan menuai jagung, tidak mungkin kita menuai padi. Sekarang kita berbuat baik atau buruk pada siapa saja dan apapun bentuknya suatu saat kita pasti akan mendapatkan imbalan dari  apa yang kita berbuat tadi.

itu jelas dan pasti sebab hidup ini mengikuti apa yang di sebut dengan hukum kausalitas atau hukum karma, hukum pembalasan, sebuah hadits yang berbunyi "man amila soliha falinafsi waman asa‘a faaliha", untuk itu marilah kita menanam kebaikan dengan berbuat yang terbaik  dan bermanfaat untuk orang-orang yang ada di sekitar kita, sakecil apapun kebaikan ayo kita laksanakan dan orang akan mengenal kita . wassalam, 

oleh: H. Farid.

Pandangan Ulama tentang Valentine's Day

Written By Admin on Wednesday, January 2, 2013 | 10:46 PM


Februari, adalah bulan yang oleh kebanyakan kaum muda selalu dinantikan. Valentine's Day, hari dimana kebanyakan kaum muda merayakannya dengan berbagai macam cara dan acara. Banyak pendapat mewarnai peringatan hari kasih sayang atau Valentine's Day yang biasa dirayakan setiap tanggal 14 Februari. Kontroversi muncul karena tak jarang perayaan hari kasih sayang tersebut identik dengan pesta pora hingga larut malam, bahkan tidak jarang yang menyalah gunakannya dengan pesta seks.
Pendapat para Ulama

Menyikap hal tersebut, Ustadz Haji Trigunawan Hadi, salah satu pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) ketika diminta pendapatnya mengenai Valentine's Day, kepada IRNews menuturkan, perayaan hari Vaelntine tidak sesuai dengan kultur  Indonesia. Terlebih dalam Islam, Valentine's Day cenderung lebih melegalkan pada  kebebasan pergaulan dan melupakan norma-norma yang ada dimasyarakat.

Sedangkan KH Abdul Aziz Syamsuri salah satu Ulama dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) masih setali tiga uang. Dia memaparkan bahwa Valentine's day merupakan peringatan atas wafatnya pendeta Santo Valentine sehingga umat Islam tidak pantas merayakannya.

"Mantasa baha bikaumin fahua minhum, barang siapa yang menyerupai kaum itu maka dia termasuk golongannya,dengan dalil tersebut maka haram hukumnya bagi umat Islam untuk berpartisipasi dalam bentuk apapun," ujar Kyai Abdul Aziz.

"Valentine bagi saya tidak sesuai dengan kultur Indonesia dan Islam bahkan cenderung lebih melegalkan terhadap kebebasan pergaulan terutama hubungan yang bukan mahrom, jadi menurut saya seharusnya tidak ada perayaan apapun di Indonesia terhadap acara valentine," ujar Tri

Sementara KH.Nur Iskandar tokoh NU dan piminan Ponpes Assidiqiyah secara tegas mengharamkan peringatan hari Valentine tersebut.

"Yang saya tekankan adalah merayakan, karena bukan hanya hura-hura tetapi ada nilai ajaran agama lain yang masuk dalam proses perkembangan budaya valentin day," tegasnya.

Bukan hanya Nur Iskandar SQ, H.Sulaiman Rais Tokoh Muhammadiah juga mengatakan hal yang sama. Valentine's day lanjutnya, bukan merupakan warisan para nabi, tetapi ajaran dewa Luparcelia yang diteruskan oleh uskup Santo Valentine.[fin-5]

Sumber berita : http://www.indonesiarayanews.com

Hikmah Sholat

Written By Admin on Saturday, February 5, 2011 | 7:27 PM

Takbiratul Ikhram
Menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya tubuh bagian atas.

Ruku
Melatih kandung kemih untuk mencegah dari gangguan prostat

I’tidal
Organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian, sehingga menjadi lancar.

Sujud
Memperkaya oksigen mengalir ke otak juga menghindari wasir, dan memberikan kesuburan dan kesehaan organ wanita.

Duduk Iftirosi
Menghindari nyeri pada pangkal paha yang menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan

Sujud
Gerakan sujud secara kontinyu dapat memacu kecerdasan otak

Duduk Tawarruk
Mencegah penyakit kandung kemih, prostat saluran vas deferens dan impotensi

Salam
Gerakan memutar kepala secara maksimal berguna melancarkan darah ke kepala dan mengencangkan kulit wajah

Hikmah sholat juga dapat memperindah tubuh wanita dan kelenjar air susu di dalamnya.

Kematian Awal Perjalanan Menuju Akhirat

Written By Admin on Wednesday, January 12, 2011 | 12:08 AM

Kematian merupakan hal yang biasa kita jumpai tetapi kematian juga masih merupakan momok bagi kita jika seandainya kematian itu terjadi pada diri kita. Sadarlah, kematian akan datang pada kita karena perlahan setiap detik, menit, jam, hari yang kita punya di dunia berkurang. Dunia tidak dapat menampung kita selamanya karena duniapun tidak akan abadi.

Lalu setelah mati?

Kematian bukan sebuah akhir perjalanan. Memang, sebuah akhir perjalanan di dunia tetapi juga sebuah awal perjalanan menuju “masa depan” yang kekal. Perjalanan yang sangat berat yang harus kita tempuh sendiri tanpa ditemani keluarga, teman-teman. Mempertanggungjawabkan dan menerima konsekwensi atas semua yang telah dilakukan di dunia.

Sekilas, tulisan di atas mungkin sama saja dengan yang lainnya. Tapi, lihatlah “masa depan” itu. Sekarang kita bisa menghabiskan waktu sesuka kita. Tapi,ketika semua kegiatan kita hanyalah hura-hura, semuanya tidaklah berarti jika kita merenungi akan masa depan kita. Tidak akan berdampak pada masa depan.

Sahabat, bukan maksud saya untuk membuat kalian takut, menyalahkan takdir atau bahkan Tuhan atas hal yang akan menimpa kita tapi saya hanya ingin kita semua sadar akan hal ini. Menyesali keadaaan malah akan memperburuk kita. Saya tidak akan menyuruh kalian untuk segera bertobat karena tujuan saya menulis seperti ini tidaklah untuk itu. Kalian sendirilah yang tau pilihan mana yang akan kalian pilih nantinya. Jalanai saja apa yang ada dan ingat selalu akan “masa depan” itu.

FADHILAH SHAUM

Written By Admin on Tuesday, January 4, 2011 | 10:35 PM

Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan shaum. Rasulullah SAW bersabda : “Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Shaum adalah perisai” (HR. Tirmidzi, hadits ini hasan shahih)

Shaum dalam hadits ini merupakan perisai bagi kita baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, shaum adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka.

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan AMALAN-AMALAN SUNNAH sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

1). SHAUM Setiap hari Senin dan Kamis
"Amal perbuatan itu diperiksa setiap hari SENIN dan KAMIS, maka saya suka diperiksa amalku sedang saya PUASA". (HR.Tirmidzi)

2). SHAUM 3 hari tiap bulan :
"Shaum 3 Hari setiap bln seperti shaum sepanjang tahun" (HR.Bukhari Muslim)
- 17, 18, 19 Januari 2011
- 16, 17, 18 Februari 2011
- 18, 19, 20 Maret 2011
- 17, 18, 19 April 2011
- 16, 17, 18 Mei 2011
- 15, 16, 17 Juni 2011
- 14, 15, 16 Juli 2011
- 11, 12, 13 September 2011
- 11, 12, 13 Oktober 2011
- 9, 10, 11 November 2011
- 9, 10, 11 Desember 2011

3). SHAUM RAMADHAN 1432H : 1 - 29 Agustus 2011 (tidak ada SHAUM sunnah)

4). SHAUM ARAFAH tgl 9 Dzulhijjah (5 November 2011)
"Shaum Arafah dapat menghapus dosa 2 thn" (HR.Muslim)

5). SHAUM MUHARAM - Tasu'a n Asyura‘ selama 2 hari - 9, 10 Muharram
"Shaum sunnah yg paling utama stlh Ramdhan adalah shaum dibulan Muharam" (HR.Bukhari)

6). SHAUM SYAWAL - 6 hari (Antara 31 Agustus - 28 September 2011). Bisa dilakukan bertutu-turut atau tidak
"brgsiapa yg shaum ramadhan lalu diikuti 6 hr di bln syawal seperti shaum sepanjang tahun" (HR.Muslim)

7). SHAUM DAUD - berpuasa selang seling,puasa satu hari lalu berbuka satu hari. (kecuali hari2 yang dilarang berpuasa)
"Shaum yg paling disenangi Allah ialah Shaum Daud" (HR. HR.Muslim)

TIDAK BOLEH SHAUM / SHAUM BID'AH:

- Hari Idul Adha - 10 Dzulhijjah / 6 November 2011.
- Hari tasyriq 11,12,13 Dzulhijjah / 7, 8, 9 November 2011.
- Hari Idul Fitri 1 Syawal (30 Agustus 2011)
- Shaum dihubungkan dengan hari kelahiran
- Shaum setiap hari
- Shaum khusus Hari Jumat atau Sabtu
- Shaum Wishal yaitu shaum tanpa berbuka
- Shaum Mutih, shaum mati geni, dll

"Barangsiapa yg melakukan amalan yg tidak ada tuntunannya dari Kami maka tertolak" (HR.Muslim)

Shaum Bulan Muharam: Tasu’a & ‘Asyura (15 & 16 Des 2010)

Written By Admin on Thursday, December 16, 2010 | 5:18 PM

Dari Ibnu Abbas ra berkata Rasulullah S.A.W bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka Allah S.W.T akan memberi kepadanya pahala 10,000 malaikat dan sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10,000 orang berhaji dan berumrah, dan 10,000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah S.W.T akan menaikkan dengan setiap rambut satu derajat.

Dan sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari Aasyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh ummat Rasulullah S.A.W yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka”.

Lalu para sahabat bertanya Rasulullah S.A.W:
“Ya Rasulullah S.A.W, adakah Allah telah melebihkan hari Aasyura daripada hari-hari lain?”.

Maka berkata Rasulullah S.A.W:
“Ya, memang benar, Allah Taala menjadikan langit dan bumi pada hari Aasyura, menjadikan laut pada hari Aasyura, menjadikan bukit-bukit pada hari Aasyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari Aasyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari Aasyura, dan Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari Aasyura, Allah S.W.T menenggelamkan Fir’aun pada hari Aasyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari Aasyura, Allah S.W.T menerima taubat Nabi Adam pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari Aasyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Aasyura!”.

Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra, Rasulullah saw, bersabda :
“Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan keterangan para ulama dan berdasarkan beberapa hadist, maka kita disunnahkan berpuasa Tasu’a dan ‘Asyura tanggal 9 dan 10 Muharram, bertepatan dengan 15 dan 16 Desember 2010. (by El Rinaldi Full)

Antara Dunia dan Akhirat

Written By Admin on Sunday, December 12, 2010 | 1:41 AM

Dari Zaid bin Tsabit Ra. beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“

HR Ibnu Majah (4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (229), Ibnu Hibban (680) dll dgn sanad yang shahih, dinyatakan Shahih Ibnu Hibban & Syeikh Albani by. Arie Adrian Full

Anak yang Menyejukan Pandangan - Part 2

Written By Admin on Friday, December 3, 2010 | 11:10 PM

Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, suci dan selamat dari penyimpangan dan menolak hal-hal buruk yang membahayakan dirinya. Namun lingkungan yang rusak dan pergaulan yang tidak baik akan menodai kefitrahan anak dan dapat mengakibatkan berbagai penyimpangan dan pada gilirannya akan menghambat perkembangan akal fikirannya.

Menurut Syekh Fuhaim Musthafa, masa kanak-kanak ini juga merupakan kesempatan yang sangat tepat untuk membentuk pengendalian agama, sehingga sang anak dapat mengetahui, mana yang diharamkan oleh agama dan mana yang diperbolehkan.

Dalam hal ini, keluarga merupakan tempat pertama dan alami untuk memelihara dan menjaga hak-hak anak. Anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang secara fisik, akal dan jiwanya, perlu mendapatkan bimbingan yang memadai. Di bawah bimbingan dan motifasi keluarga yang continue akan melahirkan anak-anak yang dikategorikan ‘qurratu a’yun’.

Pada dasarnya anak akan tumbuh dan berkembang banyak tergantung dan terwarnai oleh karakter yang dimiliki dan ditularkan oleh kedua orang tuanya.

Al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jauzyyah menegaskan bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangatlah penting, misalnya dalam hal:

1.Pembiasaan dan contoh-contoh teladan,

2.Memberikan permainan yang wajar dan mendidik, jangan sampai memberikan permainan yang mematikan hati, merusak kecerdasan,

3.Menghindarkannya dari pergaulan yang buruk karena pengaruh yang positif diharapkan akan menjadi kerangkan dasar bagi anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.

Anak-anak yang memiliki pondasi yang kuat dan kokoh ketika usia dini maka akan menjadi dasar dan penopang bagi perkembangan anak memasuki pendidikan selanjutnya, termasuk mempersiapkan hidupnya di tengah masyarakat.

Menurut pandangan Syekh Mansur Ali Rajab dalam karyanya Ta’ammulat fi falsafah al-Akhlaq terdapat paling tidak lima aspek yang dapat diturunkan dari seseorang kepada anaknya, yaitu:

1). Jasmaniyah, seperti warna kulit, bentuk tubuh, sifat rambut dan sebagainya.

2). Intelektual, seperti kecerdasan dan atau kebodohan.

3) .Tingkah laku, seperti tingkah laku terpuji, tercela, lemah lembuat, keras kepala, taat, durhaka.

4).Alamiyah, yaitu pewarisan internal yang dibawa sejak kelahiran tanpa pengaruh dari faktor eksternal.

5) .Sosiologis, yaitu pewarisan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Ayat di atas yang menjadi doa sehari-hari setiap orang tua yang mendambakan hadirnya keturunan yang qurratu a’yun, hendaknya dijadikan acuan dalam pembinaan anak, sehingga tidak lengah sesaatpun dalam upaya melakukan pengawasan, pendidikan dan pembinaan anak-anak mereka.

Semoga akan senantiasa lahir dari rahim bangsa ini generasi yang qurratu a’yun, bukan hanya untuk kedua orang tuanya, tetapi juga masyarakatnya dan bangsanya. Amin. (Habis)

Anak yang Menyejukan Pandangan - Part 1

Dan orang-orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah untuk kami isteri-isteri dan anak keturunan kami yang menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Furqan: 75)

Imam Ibnu Katsir memahami qurratu a’yun dalam ayat ini sebagai anak keturunan yang taat dan patuh mengabdi kepada Allah.

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa keluarga yang dikategorikan qurratu a’yun adalah mereka yang menyenangkan pandangan mata di dunia dan di akhirat karena mereka menjalankan ketaatan kepada Allah, dan memang kata Hasan Al-Bashri tidak ada yang lebih menyejukkan mata selain dari keberadaan anak keturunan yang taat kepada Allah swt.

Secara bahasa, anak dalam bahasa Arab lebih tepat disebut dengan istilah At-Thifl Pengarang Al-Mu’jam al-Wasith mengartikan kata At-Thifl sebagai anak kecil hingga usia baligh.

Berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebut kata Ath-Thifl yang berarti anak yang masih kecil sebelum usia baligh, maka terdapat empat ayat yang menyebut kata ini secara tekstual. Dua ayat berbicara tentang proses kejadian manusia yang berawal dari air mani, yaitu surah Al-Hajj: 5 dan surah Ghafir: 67.

Sedangkan kedua ayat lainnya yang menyebut kata At-Thifl terdapat dalam surah An-Nur : 31 dan 59 yang menjelaskan tentang adab seorang anak di dalam rumah terhadap kedua orang tuanya.

Yang paling mendasar dalam pembahasan seputar anak tentu tentang kedudukan anak dalam perspektif Al-Qur’an agar dapat dijadikan acuan oleh orang tua dan para pendidik untuk menghantarkan mereka menuju kebaikan dan memelihara serta meningkatkan potensi mereka.

Al-Qur’an menggariskan bahwa anak merupakan karunia sekaligus amanah Allah swt, sumber kebahagiaan keluarga dan penerus garis keturunan orang tuanya. Keberadaan anak dapat menjadi:

1.Penguat iman bagi orang tuanya [QS: 37: 102] seperti yang tergambar dalam kisah Ibrahim ketika merasa kesulitan melakukan titah Allah untuk menyembelih Ismail, justru Ismail membantu agar ayahnya mematuhi perintah Allah swt untuk menyembelihnya,

2.Anak bisa menjadi do’a untuk kedua orang tuanya. [QS: 17: 24],

3.Anak juga dapat menjadi penyejuk hati (Qurratu A’ayun), [QS: 26: 74],

4.Menjadi pendorong untuk perbuatan yang baik [QS: 19: 44]. Akan tetapi, pada masa yang sama, anak juga dapat menjadi

5.Fitnah, [QS: 8; 28] 6), bahkan anak dapat menjelma menjadi musuh bagi orang tuanya. [QS: 65: 14] by El Rinaldi

Kekeliruan dalam menghadapi Bulan Muharram

Di dalam menghadapi Tahun Baru Hijriyah, sebagian kaum Muslimin mengerjakan beberapa amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw, maka hendaknya kekeliruan tersebut bisa dihindarkan dari kita. Diantara kekeliruan tersebut adalah :

1.Menjadikan tanggal 1 bulan Muharram sebagai hari raya kaum Muslimin,

Mereka merayakannya dengan cara saling berkunjung satu dengan yang lainnya, atau saling memberikan hadiah satu dengan yang lainnya, bahkan sebagian dari mereka mengadakan sholat tahajud dan doa’-do’a khusus pada malam tahun baru. Padahal dalam Islam hari raya hanya ada dua, yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.

Hal itu sesuai dengan hadist Anas bin Malik ra, bahwasanya ia berkata : “Rasulullah saw datang ke kota Madinah, pada waktu itu penduduk Madinah merayakan dua hari tertentu, maka Rasulullah saw bertanya: Dua hari ini apa ? Mereka menjawab: “Ini adalah dua hari, dimana kami pernah merayakannya pada masa Jahiliyah. Maka Rasulullah saw bersabda : “ Sesungguhnya Allah swt telah menggantikannya dengan yan lebih baik: yaitu hari raya Idul Adha dan hari raya Idul Fitri. (HR Ahmad, Abu Daud dan Nasai)

Begitu juga, merayakan tahun baru adalah kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka kaum Muslimin diperintahkan untuk menjauhi dari kebiasaan tersebut.

Sebagaimana yang terdapat dalam hadist Abu Musa Al Asy’ari bahwasanya ia berkata : “Hari Asyura adalah hari yang dimuliakan oleh Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya.” Dalam riwayat Al-Nasai dan Ibnu Hibban, Rasulullah bersabda, “Bedalah dengan Yahudi dan berpuasalah kalian pada hari Asyura.”

2.Menjadikan tanggal 10 Muharram sebagi hari berkabung,

sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Syi’ah Rafidhah. Mereka meratapi kematian Husen bin Ali yang terbunuh di Karbela. Bahkan sejak Syah Ismail Safawi menguasai wilayah Iran, dia telah mengumumkan bahwa hari berkabung nasional berlaku di seluruh wilayah kekuasaannya pada tanggal 10 hari pertama bulan Muharram.

Ritual meratapai kematian Husen ini dilakukan dengan memukul tangan-tangan mereka ke dada, bahkan tidak sedikit dari mereka yang menyabet badan mereka dengan pisau dan pedang hingga keluar darahnya, dan sebagian yang lain melukai badan mereka dengan rantai.

3.Menjadikan malam 1 Muharram untuk memburu berkah

Dengan berbondong-bondong dan menyaksikan ritual kirab dan pelepasan kerbau bule, yang kemudian mereka berebut mengambil kotorannya, yang menurut keyakinan mereka bisa menyebabkan larisnya dagangan dan membawa berkah di dalam kehidupan mereka.

Semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan syirik dan bid’ah dan menunjukkan kita kepada jalan yang lurus.

Wallahu’alam

Salam Ikhlas !
El Rinaldi
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. LDII TANJUNGPINANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger