Sambutan Ketua LDII Propinsi Kepri

Posted by LDII Tanjungpinang

Ketua DPD Propinsi Kepulauan Riau Abdul Manaf Chan menyampaikan kata sambutan dalam rangka peresmian peletakan batu pertama pondok pesantren 'MIFTAHUL HUDA' di batam....

Ketua LDII Prop Kepri

Photo Bersama Gubernur Kepri

Posted by LDII Tanjungpinang

Usai acara pidato yang telah disampaikan Gubernur Propinsi Kepulauan Riau ISMETH ABDULLAH, seluruh pengurus Organisasi LDII tingkat Pusat maupun Daerah berphoto bersama sebagai tanda kebersamaan dan kenang-kenangan...

Photo Bersama Gubernur Kepri

Gubernur Kepri di Wawancara RRI

Posted by LDII Tanjungpinang

Peresmian Pondok Pesantren 'MIFTAHUL HUDA' yang diresmikan oleh Gubernur Propinsi Kepulauan Riau ISMETH ABDULLAH. Setelah acara pidato selesai Beliau di wawancarai oleh Media elektronik Radio Republik Indonesia (RRI)....

Tamu Undangan

Posted by LDII Tanjungpinang

Acara Peresmian Pondok Pesantren 'MIFTAHUL HUDA' yang diresmikan oleh Gubernur Propinsi Kepulauan Riau ISMETH ABDULLAH dihadiri oleh ribuan tamu undangan dari unsur Pemerintah Propinsi, DPRD Propinsi, Depag Propinsi,Ketua DPP LDII Pusat, DPD LDII Propinsi, DPD LDII Kabupaten/Kota serta masyarakat setempat. ...

Juara Persinas ASAD

Posted by LDII Tanjungpinang

Salah seorang atlit Persinas ASAD tingkat anak-anak telah mengharumkan nama persinas ASAD tingkat Kota. Prestasi yang telah diraihnya yakni menjadi juara pertama di tingkat Kota membuat para Persinas lainnya kagum, karena Persinas ASAD seperti bayi yang baru lahir akan tetapi telah memiliki prestasi yang sangat baik dan bisa menciptakan juara meskipun masih di tingkat Kota.....

Juara Persinas ASAD

Gerak Jalan 17 KM

Posted by LDII Tanjungpinang

Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) berpartisipasi mengikuti Gerak Jalan 17 KM. Dengan semangat jiwa pemuda, para Generasi LDII terjun ke lapangan menunjukkan kepedulian terhadap pemerintah dalam peran aktif masyarakat.....

Gerak Jalan 17 KM

Rakorda XII MUI Se-Sumatera di Tanjungpinang Kepri

Posted by LDII Tanjungpinang

Pengurus DPD LDII Propinsi Kepulauan Riau di ikut sertakan sebagai peserta dalam acara Rapat Koordinasi antar Daerah (Rakorda) XII MUI Wilayah I se-Sumatera pada tahun 2009 yang di adakan di Tanjungpinang Propinsi Kepulauan Riau pada tanggal 6 Agustus s/d 9 Agustus 2009.....

Rakorda MUI se-Sumatera

Tuesday, September 29, 2009

LDII dan Badan Kesbangpol Linpenmas Kota Tanjungpinang

DPD LDII Kota Tanjungpinang terus berupaya untuk mensosialisasikan LDII yang ada di Kota Tanjungpinang dengan berbagai cara agar masyarakat mengetahui LDII merupakan organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang dakwah.

Berbagai kegiatan pemerintah selalu mengikutsertakan warga LDII sebagai peserta, baik sebagai panitia maupun peserta seperti acara yang diadakan oleh Badan Kesbangpol Linpenmas Kota Tanjungpinang “Fasilitasi Pencapaian Halaqah dan Berbagai Forum Keagamaan lainnya dalam upaya peningkatan wawasan kebangsaan” sudah 2 tahun berturut-turut LDII Kota Tanjungpinang mengikuti kegiatan tersebut.

DPD LDII Kota Tanjungpinang terdiri dari tokoh agama, organisasi non pemerintah yang berbasis agama, dalam sambutan Kepala Badan Kesbangpol Linpenmas Kota Tanjungpinang Drs. M. Juramadi Esram, SH, MT, menyampaikan “Dalam rangka menjaga dan menumbuh kembangkan rasa keharmonisan, saling hormat menghormati antar umat beragama yang ada di Kota Tanjungpinang. Maka kegiatan ini sangat penting dan bermanfaat guna mewujudkan kerukunan antar umat beragama.

Kegiatan berlangsung sehari di Hotel Laguna dengan nara sumber yang terdiri dari:

1. Prof. DR. H. M. Ridwan Lubis (Puslitbang Kehidupan Keagamaan Dep. Agama RI)
2. Drs. H. Tafrudin Jarijis (Ketua FKUB Kota Tanjungpinang)
3. Drs. H. Razali Jaya ( Ka Kanwil Depag Propinsi Kepulauan Riau
4. Drs. H. Syamsuddin, MM (Kakan Depag Kota Tanjungpinang)

Biro humas LDII Kota Tanjungpinang H. Farid, mengajak kepada seluruh masyarakat Kota Tanjungpinang khususnya “Mari kita pelihara, kita bina dan tingkatkan kerukunan umat beragama menuju masyarakat agamis yang madani di Kota Tanjungpinang”.

Tuesday, September 1, 2009

RAKORDA XII MUI I SE-SUMATERA DI TANJUNGPINANG-KEPRI

Pengurus DPD LDII Propinsi Kepulauan Riau di ikut sertakan sebagai peserta dalam acara Rapat Koordinasi antar Daerah (Rakorda) XII MUI Wilayah I se-Sumatera pada tahun 2009 yang di adakan di Tanjungpinang Propinsi Kepulauan Riau pada tanggal 6 Agustus s/d 9 Agustus 2009.

Pada kesempatan itu acara dibuka oleh Bapak Gubernur Kepulauan Riau ISMETH ABDULLAH di Halaman Gedung Daerah yang dihadiri oleh para peserta yang berjumlah sekitar 200 orang dari seluruh Propinsi yang ada di Sumatera. Mengingat pentingnya Rakorda ini yang diadakan setahun sekali secara bergiliran antar daerah yang ada di wilayah I se-Sumatera.

Dengan terealisasinya Rakorda XII di Tanjungpinang ini di harapkan dapat meningkatkan peran serta alim ulama. Khusunya MUI dalam berbagai kegiatan membangun Sumber Daya Manusia yang kokoh dan mandiri. Di daerah masing-masing, MUI agar dapat bekerja sama antar dewan pimpinan MUI dengan berbagai pihak, serta merumuskannya dalam bentuk kegiatan operasionalisme program. Program prioritas keumatan intern maupun ekstern.

Demikian sambutan Ketua Umum MUI Propinsi Kepulauan Riau K H. T. AZHARI ABBAS pada acara pembukaan Rakorda, pada kesempatan yang sama hadir juga sebagai nara sumber KH. MA’RUF AMIN dan beberapa pengurus pusat MUI. Acara diisi dengan dialog-dialog dari peserta dan Nara Sumber dan sidang-sidang komisi pengurus LDII Propinsi Kepulauan Riau yang hadir sebagai peserta tetap HAMZAH FARID, JOKO NURYONO, ABD. GHOZI, Drs. H. ABDULLAH MANAF CHAN.

Acara Rakorda ditutup oleh Bapak Gubernur Propinsi Kepulauan Riau yang diwakili oleh Sekda Propinsi Kepulauan Riau H. EDY WIJAYA di Hotel Bintan Agro Bintan. Propinsi Kepulauan Riau.

Tuesday, August 18, 2009

Cukuplah Kematian Sebagai Peringatan

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi). Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.
Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.

1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga

Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.

Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”

Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.

Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) dating azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul..”

2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa

Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.

Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir.

Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.

Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naïf kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.

3. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa

Islam menggariskan bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu.

Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang. Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.

Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.

4. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara

Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.

Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.

5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga

Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.

“Ad-Dun-ya mazra’atul lil akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)

Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan. [Oleh : Heri_Lantabur]

Disayang atau Dilaknat Al Qur’an?

Ambil Al-Quran yang sehari-hari dipakai mengaji. Lalu buka lembar demi lembar. Selamat, bagi yang sudah lancar membaca Al-Quran alias ”Qori” dan sudah khatam bacaan-makna-keterangan. Lalu bagaimana dengan yang makna-keterangan belum khatam, bacaan belum tartil, apalagi yang belum bisa membaca?
Padahal selama hidup sejak aqil baligh, atau sejak insof, sudah ribuan jam waktu dihabiskan untuk membaca (urut abjad): abstracts, artikel, cerbung, cergam, cerpen, diktat, e-book, handbook, jurnal, kamus, komik, koran, majalah, novel, tabloid, textbook, thesaurus dll. Semua orang tahu dalil ini: tolabul ‘ilmi faridlotun ‘alaa kulli muslimin ~ mencari ilmu itu wajib bagi orang muslim. Tetapi ilmu apakah yang wajib dicari?

Ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa ilmu yang wajib dicari itu ada tiga, yaitu Al-Quran, Al-Hadits dan Faroidl atau ilmu waris. Selain itu hanyalah keutamaan saja. Belasan tahun sumberdaya enerji, waktu, tenaga, pikiran, dan dana dihabiskan untuk mencari sekian banyak ilmu dunia yang menghasilkan setumpuk ijazah, sementara 3 ilmu yang wajib dicari dan dikuasai yang passsti berakibat terhadap konsekwensi sorga-neraka seseorang, justru diabaikan. Ironis? Nggak lah. Sangka baik kepada Allah ~ husnudzonbillah saja, itu semua terjadi karena kekurang-fahaman atas hadits tadi, bukan karena selainnya. Yang terpenting adalah mengambil langkah-langkah korektif secepatnya.

Kendala Qori
Firman Allah: warottilil qur’aana tartiila ~ dan bacalah Al-Quran dengan tartil, tertib. Suara pun harus terdengar tetapi tidak asbun ~ asal bunyi melainkan harus tepat sesuai makhraj (bunyi keluarnya suara) dari huruf hijaiyyah: alif ba` ta` tsa` dst sampai ya`.
Bagi beberapa etnis orang A’jam (non-Arab), makhroj huruf hijaiyyah saja sudah satu persoalan tersendiri.

Untuk sebagian orang Sunda totok, misalnya, Nauu’dzubillah sulitnya membunyikan fa` yang kerapkali tisoledat ~ tergelincir menjadi pa`. Itu karena rumpun suku Kabayan ini tidak mengenal vocabulary “f” tapi “p”: peuyeum, peureum, peureus,peupeus, peuheur, peungkeur, peureudeuy. So, jangan heran kalau ‘fa-aina’ terdengar jadi ‘pa-aina’, atau bahkan ‘pa-aena’.
Untuk sebagian orang Jawa totok, misalnya lagi, Masya Allah sulitnya membunyikan huruf ‘ain. Maunya ‘ngain terus. Jangan heran kalau sholawat “wa ‘ala ali ibrohim” terdengar ”wa ngala ngali ngibrohim”.

Itu baru huruf hijaiyyah yang adalah ilmu 1 huruf. Ada lagi tajwid atau ilmu 2 huruf, perihal pertemuan 1 huruf dengan 1 huruf lainnya: izh-haar, idghaam, iqlaab, ikhfaa`, qalqalah, madd dan waqaf. Di Indonesia, ada tambahan kendala dimana didalam konvensi literasi huruf hijaiyyah menjadi bahasa Indonesia, bukannya ditulis kho` tapi kha`, `ro tapi `ra, shod tapi shad, dst, dst. Semakin membuat lieur saja, bukan?

Perjalanan Panjang Talaqqi
Belajar membaca Al-Quran adalah perjalanan panjang. Ada yang masih ingat masa kecil dulu ketika masih di level ‘alif-ba-ta’? Saat itu belum ada metoda Iqra temuan KH As’ad Humam. Sepertinya lahiriahnya khusyuk, padahal batiniahnya ketakutan dengan sebatang rotan di tangan ustadz yang siaga-satu siap melayang jika sampai ulangan ke 3 bacaan masih salah.
Belajar sendiri dari kaset atau MP3 player? Tidak bisa. Seperti halnya Fahri didalam “Ayat-Ayat Cinta”. Udara Kairo sepanas apapun tetap ditembusnya demi talaqqi (murid berhadapan langsung) dengan guru bacaan Qiro’ah Sab’ah.

Mengapa? Sebab tanpa talaqqi mana mungkin tahu imalah dimana ditulis “majrooha”, tetapi jika dibaca persis seperti itu, sudah pasti salah. Mana mungkin tahu sakat yang ibarat tombol pause tape atau MP3 player kepencet. Mana mungkin tahu ismam: “laa ta-manna” yang salah-benarnya hanya bisa diketahui dengan mata telanjang, bukan dengan kuping, dst.
Al-Quran bukanlah buku biasa yang siapa saja bisa membacanya tanpa guru. Jibril tidak mengajarkan hijaiyyah dan tajwid kepada Muhammad, kemudian membiarkan Muhammad membaca Al-Quran sendiri.

Al-Quran adalah firman Alloh yang disimpan di Lauh Mahfudz, kemudian disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad kata demi kata, ayat demi ayat. Dimulai dari ’iqro bismirobbikalladzii kholaq’, terus sampai 6.666 ayat, ditutup ‘minal jinnati wannaas’.

Belajar Al Quran haruslah sabar, konsisten dan persisten alias ngotot dalam pengertian positif. Tuh, Rosul saja perlu 23 tahun untuk talaqqi kepada Malaikat. Apalagi kita yang orang A’jam manusia biasa talaqqi kepada guru yang orang A’jam biasa pula.

Bacaan Murottal
Lalu bagaimana dengan kaset dan MP3? Silahkan, tetapi setelah melewati tahap talaqqi. Itu justru sangat bermanfaat untuk mengasah pendengaran, menirukan bacaan dengan makhroj-tajwid yang dipelajari ketika talaqqi, dan mempelajari langgam atau lagu.

Ada bacaan qori Syeikh Abdullah Al Matrud, Abdurrahman As Sudais, Ali Al Khudzaifi, Hani Ar Rifai, Mahmud Al Husori, Misyari Rasyid Al Hafasi, Muhammad Ayub, Sa’ad Al Ghomidi, Su’ud Asy Syuraim. Di Indonesia, ada bacaan qoriah Dra. Hj. Maria Ulfah M.A. www.mariaulfahm.com, dan qori H. Muammar Z.A yang ternyata cukup populer di www.youtube.com.

Sebagai Imam Masjidil Haram, As Sudais dengan suara tenor dan Asy Syuraim dengan suara bariton adalah yang paling populer. Tetapi jika diperhatikan, keduanya memendekkan mad jaiz dari 5 menjadi 2 harakat. Setelah minta pendapat KH Kasmudi Asshidqy yang juga penulis di majalah Nuansa ini, bacaan qori Syeikh Al Ghomidi yang paling pas dengan bacaan hafs di Indonesia.

Alat Bantu: 3-Qori SSG
Dulu, bacaan Al Quran disimpan didalam kaset. Masih terkenang ribet kemana-mana membawa sekotak puluhan kaset. Sekarang dalam format MP3, 30 Juz bisa disimpan dalam 1 keping CD. Kelemahan belajar qiroat dari kaset dan MP3 player, antara lain karena perlu seringnya menekan tombol ”REW” dan ”FF”. Lebih memakan waktu untuk memundur-majukan ayat daripada konsentrasi terhadap belajar qiroat.

Bersyukurlah, saat ini ada Pena Qori, alat digital made in swasta dengan Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) yang di launching di MTQ Nasional ke XXII 17 Juni 2008 lalu di Serang, Banten. Dalam suatu demo, mata Pena Qori diarahkan ke ayat-ayat di surat At-Takwir maju-mundur secara acak. Luar bisa kecepatan dan ketepatannya! Hanya dengan menempelkan pena 90 derajat sejarak 0,6 mm dari mushaf ayat 26, terdengarlah suara “Fa aina tadzhabuun” dan terjemahannya “Maka kemanakah kamu akan pergi?”

Resensi banyak media terhadap pena qori digital ini bisa dilihat di www.google.co.id dengan keyword “Pena Digital Fasih Membaca Alquran”. Di kampus IIQ, pena qori digital dijual dengan harga Rp. 1,27 juta, sedangkan di MTQ XXII pena qori dijual dengan harga Rp. 850 ribu. Sampai saat ini baru ada pena qori digital berisikan suara qoriah Maria Ulfah. Sangat praktis, apalagi dilengkapi earphone. Penulis saat ini sedang nego untuk membuat pena digital berisikan suara 3-qori sekaligus Sudais-Syuraim-Ghomidi. Pihak pabrikan setuju. Tetapi karena memakan waktu dan biaya, maka tentu saja ada minimum economics of scale, ada minimum pesanan, Yang bener aja ah, mosok minta dibuatkan pena digital berisi database 19.998 ayat dari 3 orang qori Makkah-Madinah, trus cuma pesen 1 biji! Penulis mengundang para pembaca yang budiman

2 Opsi: Mau Disayang? tau Dilaknat Al Quran?
Fahri bak pahlawan. Dia tidak hidup dengan Siti Nurbaya, zaman sabak. Dia hidup dengan Maria-Aisyah, zaman internet. Dia memberikan pelajaran kepada kita betapa talaqqi tidak bisa tergantikan oleh metoda apapun, tidak dengan kaset, tidak dengan MP3. Dan demi talaqqi, dia terkena meningitis.

Puasa di ambang pintu. Marhaban! Inilah waktu yang tepat untuk talaqqi. Inilah waktu yang pas untuk solat hifdzi. Lalu kebut jadi Qori dengan menggunakan alat bantu mutakhir yang boleh jadi merupakan ‘barang hilangnya’ orang mumin: al hikmatu doollatul mu-miniin.
Sekian tahun menghabiskan waktu, tenaga, pikiran dan dana untuk membaca buku mencari ilmu menuai ijazah, kini tiba saatnya kembali khusyu’ membaca Al-Quran.

Alloohummar hamnaa bil qur’aan
~ Ya Allah, sayangilah kami dengan Al-Quran
Waj’alhu lanaa imaaman wa hudan wa nuuron wa rohmah
~ dan jadikanlah Al Qur’an bagi kami menjadi imam, petunjuk, cahaya, dan rahmat
Alloohumma dzakkirnaa minhu maa nasiinaa
~ Ya Allah, ingatkanlah kami dengan Al Qur’an atas segala apa yang kami lupa
Wa ‘allimnaa minhu maa jahilnaa
~ dan ajarilah dengan Al Quran atas segala apa yang kami bodoh

Rubba qoori-in lil Quraan wal Quraanu yal’anhu ~ Adakalanya orang membaca Al-Quran dan Al-Quran melaknatinya, demikian riwayat sebuah hadits didalam tafsir Haqi dari Aisyah. Jadi kalau yang membaca Al-Quran saja masih diancaman dilaknat Al-Quran, lalu bagaimana dengan yang tidak? Apalagi yang buta baca? Addduhhh! Fa aina tadzhabuun? Sumber: http://nuansaonline.net

Presiden SBY Terima LDII di Istana

“Hari Selasa (23/6) pagi di Kantor Kepresidenan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), yang tanggal 10 s/d 12 Juni 2009 lalu menyelenggarakan Rapimnas. Kepada Presiden, pimpinan LDII melaporkan hasil-hasil Rapimnas, termasuk 11 butir pokok-pokok pikiran dan masukan kepada Presiden.
“Presiden SBY sempat membahas satu persatu 11 butir pikiran yang konstruktif dan kontributif terhadap perjalanan bangsa ini,” kata Juru Bicara Presiden, Andi Mallarangeng. “Butir-butir pikiran itu, termasuk bagaimana LDII mengawal proses demokrasi dalam pemilihan presiden yang bisa memberi rahmat bagi masyarakat Indonesia tersebut sangat diapresiasi,” lanjutnya.

Ketua Umum LDII, K.H. Abdullah Syam, menyampaikan bahwa dalam AD/ART LDII tercantum Rapimnas. “Kita melihat ada satu dinamika dalam perubahan tiap lima tahun sekali dalam demokrasi, pemilihan presiden. Kita lihat ada sumber daya manusia, demokrasi, menyangkut kedaulatan Indonesia. Kami berupaya memberi kontribusi kepada penegakan demokrasi yang bermakna, ” jelas Abdullah.

“Ada lima lembaga pemerintah yang bisa hadir, para pakar yang berkaitan dengan lembaga dakwah dan dibuka Presiden yang diwakili Menteri Agama. Menkes juga hadir. Disitu kita mendapat bantuan 19 pos kesehatan, masing-masing senilai Rp. 19 juta, diresmikan di Bandar Lampung. Tiga puluh lainnya diusulkan untuk 2009,” ujar Abdullah. Jaksa Agung hadir dalam topik supremasi hukum, Kapolri hadir dalam peran ormas dan kamtibnas, dan Menkominfo hadir dalam pembahasan teknologi sebagai media dakwah,” terang Abdullah.

Sebelas keputusan Rapimnas tersebut direspon satu-persatu oleh Presiden. “LDII sangat berterimakasih kepada Presiden SBY. Kami berharap hasil Rapimnas dapat memberikan penguatan. Ini kontribusi kita dalam Rapimnas, dan sudah direspon dengan baik, semoga bisa memberikan manfaat dan maslahat bagi bangsa,” Abdullah menjelaskan.
Saat menerima tamunya Presiden SBY didampingi Mensesneg Hatta Rajasa, Seskab Sudi Silalahi dan Menkominfo M. Nuh. Sementara pengurus Dewan Pimpinan Pusat LDII yang diterima SBY antara lain, Ketua Umum K.H. Abdullah Syam, Dewan Penasehat K.H. Abdul Syukur, K.H. Mulyono, Shobar Wiganda, Kriswanto Santoso, dan Ratoyo Rasdan. (osa)
(sumber: www.presidensby.info)

Tuesday, August 11, 2009

LDII Bukan Aliran Islam Radikal atau Sesat

LDII Tanjungpinang - Anggota pengajian Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) jalan Kijang Lama KM 6 Kelurahan Kampung Bulang Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memastikan, ajaran di pengajian LDII bukan aliran radikal.

"Ajaran di pengajian LDII berdasarkan perintah Allah dan Rasul. Jadi bukan aliran radikal sebagaimana isu fitnah yang ditujukan pada kami," kata anggota LDII jalan Kijang Lama KM 6 Kelurahan Kampung Bulang, Kota Tanjungpinang, Mario, Jumat.

Anggota LDII juga tidak terima kalau lembaga pengajiannya disebut sebagai aliran menyimpang dari ajaran agama Islam.

"Sekali lagi saya katakan, itu fitnah," kata Mario yang sejak tahun 1993 menjadi anggota LDII, menegaskan.

Berdasarkan pengalamannya, selama menjadi anggota LDII di Padang, Sumatera Barat dan Tanjungpinang, secara umum Mario menilai tidak ada perbedaan antara ajaran LDII dengan organisasi pengajian lainnya.

"Yang berbeda itu, hanya ketika menyambut Maulid Nabi. Umumnya Islam merayakannya, tapi anggota LDII tidak merayakannya karena tidak diperintah Al-Quran dan Hadits," kata Mario yang berusaha merinci perbedaan LDII dengan Ormas Islam lainnya.

Ajaran LDII disebut-sebut sebagai ajaran radikal, karena memandang penganut ajaran Islam lainnya seperti "kotoran".

Misalnya, seorang muslim yang bukan anggota LDII melakukan ibadah di masjid yang dibangun LDII. Ketika muslim tersebut pulang dari mesjid, bekas langkahnya segera dibersihkan anggota LDII.

Hal yang sama juga dilakukan anggota LDII ketika seorang muslim yang bukan anggota LDII memasuki rumah mereka.

"Itu tidak benar. Saya tinggal dekat pengajian dan belum pernah melakukan hal seperti itu," kata Mario membantah.

Namun Mario mengaku, telah lama mendengar isu tersebut.

"Jika sewaktu-waktu saya langsung mendengar dari orang yang menyebarkan fitnah itu, pasti saya minta orang itu membuktikannya," ucap Mario dengan nada meninggi.

Ia menyesalkan pernyataan Hazarullah Azwad, seorang pemuka agama yang juga pegawai Departemen Agama (Depag) Kota Tanjungpinang, yang menyebutkan LDII sebagai aliran menyimpang.

"LDII sebagai aliran menyimpang, sehingga perlu diwaspadai umat Islam umumnya," kata Hazarullah yang juga Ketua Forum Komunikasi Masjid dan Mushala (FKMM) Kepri.

Hazarullah mengaku, memiliki bukti-bukti ajaran LDII itu dapat menyesatkan umat Islam. Namun ia menolak membeberkannya kepada wartawan. (*/cax)

Friday, August 7, 2009

Kriteria Syarat Berdirinya Ponpes

Sekupang- Batam. Dalam kesempatanya menyampaikan kata sambutan dalam acara peletakan batu pertama pembangunan pondok pesantren Miftahul Huda Batam di Patam Asri Sekupang, Kakanwil Depag Propinsi Kepulauan Riau, Bapak Drs. H. Razali Wijaya menyampaikan di hadapan hadirin beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk berdirinya sebuah pondok pesantren.
“Pertama-tama, marilah kita menyampaikan rasa syukur kita pada Allah SWT, Alhamdulillah, dengan izin Nya siang hari kita berkenan dapat hadir untuk mengikuti acara peletakan batu pertama pondok pesantren Miftahul Huda di kota Batam. Semoga acara kita ini senantiasa diberkati dan diridhoi ya Allah SWT. Amin,” demikian beliau memulai kata sambutannya.

“Yang pertama, sudah barang tentu kami dari Kantor Wilayah Department Agama Propinsi Kepulauan Riau menyambut baik pembangunan pondok pesantren Miftahul Huda. Mudah-mudahan dengan terlaksananya pembangunan pondok pesantren ini akan menambah jumlah pondok pesantren yang ada di Kepulauan Riau. Sehingga dengan pondok pesantren ini nantinya kita harapkan umat Islam di Propinsi Kepulauan Riau akan lebih mampu mempelajari, mampu mendalami agama dengan baik dan benar. Untuk kami mengucapkan selamat dan tahniah kepada panitia, kepada Lembaga Dakwah Islam Indonesia.” ungkapnya.

“Yang kedua, bahwa pondok pesantren adalah termasuk salah satu Lembaga Pendidikan yang dikelola oleh Departemen Agama, disamping bentuk-bentuk lainnya seperti RA, Diniay, Perguruan Tinggi dan sebagainya. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang diatur dalam peraturan pemerintah PP No. 55/2007.

“Untuk itu, mudah-mudahan, dalam kegiatan Pondok Pesantren ini nantinya dapat memenuhi 5 kriteria syarat yaitu :

1. Adanya Kiyai

2. Memiliki santri dan santriwati

3. Harus memiliki mesjid

4. Harus memiliki asrama, dan yang tak kalah pentingnya,

5. harus ada Perpustakaan

“Kemarin Bapak Menteria Agama baru saja memberikan penghargaan pada pondok-pondok pesantren diseluruh Indonesia. sebagai contoh kemarin Pondok pesantren Gontor yang sudah terkenal di seluruh Indonesia mendapat penghargaan dari Menteri Agama. Oleh karena itu, kita berharap, agar Pondok Pesantren Miftahul Huda ini nantinya bisa dikemas secara baik.”

“Semoga ponpes ini nantinya bisa ikut menciptakan masyarakat kepulauan Riau yang berakhlak mulia. Kami ucapkan selamat kepada LDII semoga apa yang kita laksanakan ini dapat mendapat ridho dari Allah SWT.” ungkapnya sambil mengakhiri kata sambutannya dengan sebait pantun.

“Kota Batam Kota Madani

Tanjung Pinang Ibukota Idaman

Karena Peletakan batu pertama pondok pesantren Miftahul Huda kita ke sini

Semoga dapat kita wujudkan tali persaudaraan”

….disambut tepuk tangan para hadirin. (rph/0109)

Download E-Book Gratis

Tuntunan Bertata Krama

 
Silahkan Copy Paste Scrip Dibawah ini ke Blog/situs Anda, agar mudah di download oleh teman-teman Anda. GRATIS
 

Qiro'at Peresmian Pondok

Komentar Anda

Atraksi Persinas ASAD

Anda Pengunjung Ke

Visi LDII

Untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi, Lembaga Dakwah Islam Indonesia mempunyai Visi sebagai berikut:

“Menjadi organisasi dakwah Islam yang profesional dan berwawasan luas, mampu membangun potensi insani dalam mewujudkan manusia Indonesia yang melaksanakan ibadah kepada Allah, menjalankan tugas sebagai hamba Allah untuk memakmurkan bumi dan membangun masyarakat madani yang kompetitif berbasis kejujuran, amanah, hemat, dan kerja keras, rukun, kompak, dan dapat bekerjasama yang baik”

Misi LDII

Sejalan dengan visi organisasi tersebut, maka misi Lembaga Dakwah Islam Indonesia adalah:

“Memberikan konstribusi nyata dalam pembangunan bangsa dan negara melalui dakwah, pengkajian, pemahaman dan penerapan ajaran Islam yang dilakukan secara menyeluruh, berkesinambungan dan terintegrasi sesuai peran, posisi, tanggung jawab profesi sebagai komponen bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”

Strategi

Untuk pencapaian MISI LDII tersebut akan dilakukan dengan Strateji sebagai berikut:

[1] Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia dan meningkatkan kualitas sumberdaya pembangunan yang memiliki etos kerja produktif dan professional, yang memiliki kemampuan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berwawasan lingkungan, dan berkemampuan manajemen;

[2] Memberdayakan dan menggerakkan potensi sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kemampuan untuk beramal sholih melakukan pengabdian masyarakat di bidang sosial budaya, ekonomi dan politik;

[3] Menumbuhkembangkan kegiatan usaha dan kegiatan kewirausahaan dalam rangka pembenahan ekonomi umat sesuai tuntutan kebutuhan, baik pada sektor formal maupun informal melalui usaha bersama dan usaha koperasi, serta bentuk badan usaha lain;

[4] Mendorong pembangunan masyarakat madani [civil society] yang kompetitif, dengan tetap mengembangkan sikap persaudaraan [ukhuwwah] sesama umat manusia, komunitas muslim, serta bangsa dan negara, sikap kepekaan dan kesetiakawanan sosial, dan sikap terhadap peningkatan kesadaran hak dan kewajiban sebagai warga negara, serta membangun dan memperkuat karakter bangsa;

[5] Meningkatkan advokasi, penyadaran dan pemberdayaan masyarakat tentang pentingnya supremasi hukum, kewajiban azasi manusia [KAM], hak azasi manusia [HAM], dan tanggung-jawab azasi manusia [TAM] serta penanggulangan terhadap ancaman kepentinganpublik dan perusakan lingkungan.

[6] Meningkatkan advokasi, penyadaran dan pemberdayaan masyarakat tentang pentingnya supremasi hukum, kewajiban azasi manusia [KAM], hak azasi manusia [HAM], dan tanggung-jawab azasi manusia [TAM] serta penanggulangan terhadap ancaman kepentinganpublik dan perusakan lingkungan

Moto

Moto LDII ada tiga yaitu :

[1]Dan hendaklah ada di antara kamu sekalian segolongan yang mengajak kepada kebajikan dan menyuruh pada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [ Q.S. Ali Imron, ayat: 104 ]

[2]Katakanlah ini lah jalan (agama)-ku, dan orang–orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah dan aku tiada termasuk golongan orang yang musyrik [ Q.S. Yusuf, ayat:104 ];

[3] Serulah (semua manusia) kepada jalannya Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan yang lebih baik [ Q.S. An-Nahl, ayat 125 ].

Alexa Rank

 

Pengikut

Berita Lokal

Berita Nasional

Template by NdyTeeN